# Nameless Memories #
“Youngshimi… Ini….” Seorang gadis SMA menyerahkan selembar partitur pada Youngsaeng yang sedang duduk di rerumputan halaman sekolah.
“Umm?? Moonlight Sonata?” Tanya Youngsaeng.
“Pertama kali aku dengar aku langsung suka. Kamu kan paling jago kalau main piano. Sedangkan aku? Apa sih yang bisa kulakukan dengan baik? Menggambar saja aku kalah dengan anak TK…” jelas gadis itu.
Youngsaeng tersenyum kemudian mengelus rambut gadis itu. ”Baiklah Joo Ri… akan aku coba…” ucapnya hangat. Joo Ri mengangguk, “Aku menyayangimu…” ucapnya kemudian tersenyum simpul.
Youngsaeng balas tersenyum.
“Joo Ri! Ayo masuk! Kita mau rapat nih…!” panggil temannya. “Aku masuk dulu ya! Kalau aku lama kamu pulang duluan aja…” ucap Joo Ri.
“Aku tunggu di depan ya. Gerbang sekolah,” balas Youngsaeng. Kemudian berdiri dan menggendong tasnya.
~~~
Youngsaeng baru saja pulang. Rumahnya gelap. Sepertinya listrik padam sejak tadi pagi.
“Aku pulang…” ucap Youngsaeng. “Ayah? Ibu? Kenapa gelap sekali? Kalian di dalam kan?” tanyanya bejalan ke ruang utama.
Tiba-tiba saja Youngsaeng merasa ada seseorang yang bernafas di lehernya. Jantungnya berdegup dengan keras. Ia tak bisa bergerak karena rasa takut menjalari tubuhnya.
“Ternyata ada seorang lagi. Baguslah yang ini masih segar,” ucap orang itu yang terdengar samar di telinganya. Kemudian ia merasakan sesuatu yang tajam menancap di lehernya menorehkan dua luka tusukan disana.
Benda itu terasa panas dilehernya.seluruh darah ditubuhnya terasa mengalir berpusat dilehernya. Pandangannya kabur, samar. Nafasnya terasa berat. Detak jantungnya berdebar tak beraturan. ‘Apa ini?’ pikirnya
TOK! TOK! “Ada orang di dalam?” Tanya seseorang mengetuk pintu rumah. Sesuatu yang dingin mengalir dari luka di lehernya kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya. Pandangannya mulai terfokus sesaat namun memudar lagi. Nafasnya semakin tersengal - sengal. badannya terasa berat.
“Sial! Aku belum selesai…” ujar orang yang menggigit Youngsaeng kemudain menghilang entah kemana.
Youngsaeng terjatuh, kesadarannya mulai menghilang. Di tengah kesadarannya yang menipis itu terdengar derap kaki melangkah ke arahnya. “Sial, ia hilang…” ucap orang itu.
Seseorang mengangkat tubuh Youngsaeng. “Hoi! Masih ada yang hidup!” ucapnya. “Benarkah?” Tanya orang yang lain.
“Hei! Nak! Nak! Sadarlah!” ucap orang itu mengguncang tubuh Youngsaeng.
Youngsaeng membuka matanya. Ada kerumunan orang di depannya. “… to… long…” ucapnya lemah kemudian tak sadarkan diri.
~~~
Youngsaeng terbangun di kamar RS. Bau obat tercium begitu pekat dihidungnya. Sebuah vas berisikan bunga mawar berdiri tegak di meja disamping kasurnya.
“Youngshimi…” panggil Joo Ri. Youngsaeng menoleh. “Kau siapa?” tanyanya. “Young…” ucap Joo Ri terbata kemudian berdiri. “Youngsaeng… Ini aku… Joo Ri..” ucapnya lagi. “Maaf… Aku ga kenal kamu…” balas Youngsaeng bingung.
“Youngsaeng! Ini aku…! Aku Joo Ri…” ucap Joo Ri mengguncang
tubuh Youngsaeng. Youngsaeng menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Joo Ri, Youngsaeng berteriak, “hentikan! aku tidak tahu apa pun!" ujarnya mengibaskan tangannya pada Joo Ri.
“Ah!” Joo Ri meringis memegang lengannya. Tangannya tergores dan mengeluarkan darah. Youngsaeng menatap kedua tangannya karena terasa panas. Kukunya bertambah panjang sepanjang lima centi dan meruncing.
“Apa ini?” ucapnya heran. “Apa yang terjadi padaku?” ucapnya sambil menatap kedua belah tangannya. Kemudian ia menutup matanya dengan tangan itu, “aaargkh!!!” teriaknya.
“Youngshimi…” panggil Joo Ri sedih.
Dokter dan perawat yang mendengar keributan itu masuk ke kamar Youngsaeng dan menyuntikkan beberapa cc obat penenang hingga Youngsaeng tertidur.
~~~
Youngsaeng berada di ruang piano di sekolahnya. Ia duduk di depan piano sambil sesekali menekan tuts piano.
“Kau bingung ya dengan apa yang terjadi dengan dirimu?” tanya seseorang masuk ke ruangan itu.
Youngsaeng menoleh, “kau siapa?” tanyanya.
“Gyu Jong. Sama sepertimu…” ucapnya kemudian menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan jarinya dan sedetik kemudian kukunya memanjang.
Youngsaeng berdiri, “kau!” ujarnya. “Kau itu apa”
Gyu Jong tersenyum kecil, “aku? Umm… Kita lebih tepatnya… Kita ini vampire…” ucapnya.
“Youngsaeng menatap Gyu Jong kemudian duduk, “
omong kosong…” lalu memainkan piano.
Gyu Jong mendekati Youngsaeng “bukan omong kosong…” kemudian menyentuh dua luka kecil di lehernya.
PLAK!
Youngsaeng menepis tangan Gyu Jong, “jangan sentuh sembarangan,” ucapnya
“Vampir dapat bertahan dengan menghisap darah manusia. Walaupun vampire makhluk abadi tetap saja tanpa meminum darah manusia mereka hanya seonggok tulang berjalan.
Namun akan tetap hidup dalam bayang-bayang tuannya. Kecuali jika ia sanggup membunuh tuannya. Maka itu akan membuka jalan baginya menuju keabadian sejati,” ujar Gyu Jong kemudian bersandar di piano.
Youngsaeng masih memainkan piano, “Tak ada yang abadi kecuali Tuhan…” ucapnya tak peduli.
“Terserah padamu.. malam ini aku ada di taman kota jika kau mau ikut memburu tuanmu..” ucap Gyu kemudian menuju pintu masuk.
Bersamaan dengan itu Joo Ri masuk, “youngsaeng…” panggil Joo Ri. Joo Ri menoleh pada Gyu Jong. Gyu Jong mengangkat tangannya, “lain kali mainkanlah lagu lain selain Moonlight Sonata. Sampai Jumpa,” kemudian ia menghilang saat berbelok di lorong.
“Temanmu Youngshimi?” Tanya Joo Ri. “Entahlah…” balas Youngsaeng. “Baguslah kalau kamu ingat dia,” ucap Joo Ri mendekati Youngsaeng.
“Nanti malam aku mau ke taman menunggu kakakku yang datang dari jauh, kamu temenin aku ya..." ajak Joo Ri.
Youngsaeng menggelengkan kepalanya, “Aku ada janji…”
“Baiklah,” Joo Ri mengangguk. “Aku menyayangimu youngshimi... Tapi sejak kejadian itu kamu berubah menjadi dingin kepadaku..” ucapnya merangkul Youngsaeng dari belakang.
Youngsaeng meregangkan tubuhnya, menolak rangkulan Joo Ri. Joo Ri terdiam kemudian berjalan keluar, “sampai jumpa besok ya…” ucapnya tersenyum kemudian berlari keluar.
“Berapa kalipun kamu bilang menyayangiku, aku tetap tidak bisa mengingatmu,” ucap Youngsaeng nyaris berbisik.
~~~
Malam itu di taman, Gyu Jong berjalan sambil berjinjit di atas batas tanaman. Entah apa yang bisa membuatnya begitu ringan.
“Kau datang juga,” ucap Gyu Jong kemudian meloncat kearah Youngsaeng yang baru saja datang. Youngsaeng memasukan tangannya ke saku celananya, mengambil pisau lipat dari sakunya itu.
“Jangan terburu-buru,” ucap Gyu Jong seketika saja berada dibelakangnya merangkulnya. “Sebenarnya kau datang bukan untuk bergabung denganku kan?”
“Kau tahu? Aku datang hanya karena aku ingin mengetahui apa yang terjadi kepadaku. Kenapa aku seperti ini, apa yang terjadi dengan tubuhku, apa yang terjadi dengan ingatanku…”
Gyu jong melepaskan rangkulannya, “Sudah aku bilang kalau kita ini vampire”
Youngsaeng menarik kerah baju Gyu Jong, “Jangan main-main denganku,” Gyu Jong menggenggam tangan Youngsaeng yang menarik kerahnya. Wajahnya mendekati wajah Youngsaeng, matanya tajam menatap Youngsaeng.
“kau yang jangan main-main denganku,” balas Gyu Jong tersenyum sinis kemudian loncat tinggi dan duduk di batang sebuah pohon besar yang ada disana.
Tiba-tiba saja Joo Ri datang hendak melewati taman, “Lho? Youngsaeng? Jadi kamu punya janji disini ya? Apa… Uh…” ucapnya terhenti dan menutup matanya.
“Nuna?” panggil Youngsaeng.
Gyu Jong terbang rendah menghampiri Joo Ri kemudian menggigit leher Joo Ri. Menggigitnya dengan liar.
“Hentikan! ARGKH!” Youngsaeng berusaha menghentikan Gyu Jong hanya saja tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
Sekilas ia mengingat kenangannya. Wajah Joo Ro terbayang di benaknya, berganti ganti raut wajah seperti tayangan slide di pikirannya.
Hingga terhenti dan berganti ke wajah orangtuanya. Disaat mereka berkumpul bersama, makan malam bersama, bepergian bersama, bercanda bersama, hingga kenangannya saat menangis dan memeluk mamanya.
Dan kemudian dalam kenangannya yang terakhir, Youngsaeng melihat dirinya yang berpakaian seperti anak SMA yang lainnya yang malu-malu untuk menyatakan perasaannya, menarik tangan Joo Ri, saat Joo Ri hendak melewati gerbang sekolah, “Nuna.. Bukan.. Joo Ri… bolehkan aku memanggilmu Joo Ri saja?”
Youngsaeng menyadari sesuatu. Keyakinannya namun bukan seperti keyakinan yang ia harapkan. Berharap apa yang ia pikirkan hanya ada dalam dongeng. Hanya sekedar cerita untuk menakut-nakutinya saat menjadi anak SD yang nakal. Tapi akhirnya ia mulai menyadari, dirinya tak akan lagi sama seperti dulu.
“ARGKH!” Youngsaeng jatuh berlutut. Bersamaan dengan itu Joo Ri pun terjatuh tak bernyawa. Sesuatu mengalir di pipinya. Tidak hangat, tidak dingin juga. Air mata namun ia tak merasa sedang menangis. Ya. Ia menangis. Menangisi kenangannya bersama keluarganya yang sudah meninggal bukan karena kecelakaan. Menangisi kenangan manisnya bersama Joo Ri yang harus berahir. Menangisi dirinya yang tak akan pernah lagi merasakan, apa yang pernah ia rasakan.
# Nameless Memories #
End
Tidak ada komentar :
Posting Komentar