Jumat, 17 Oktober 2014

SS501 Fanfic ~The Night Shadow~ part 5

 She is Mine  #

Bel pulang sudah berbunyi. Soo won merapikan bukunya kedalam tas. Kemudian ia keluar menuju ke bawah, ke ruang lukis. Ekstrakurikuler yang ditekuninya semenjak ia masuk di SMA itu.
“Hei Soo won!” panggil Min Jae, ketua klub lukis yang juga sahabatnya sejak kecil. “Ya?” Tanya Soo won. “Kau sudah baikan?” Tanya Minjae ikut ke ruang lukis yang berada di lantai 2.
Soo won tersenyum, “emangnya kenapa? Ada apa? Aku baik-baik aja kok…” ucapnya. Kemudian membuka pintu geser ruang lukis. Menyimpan tasnya dimeja dan mengambil kanvas dari lemari persediaan.
Min jae tertegun menatap Soo won. Kemudian menyimpan tasnya dimeja sebelah meja Soo won dan ikut mengambil kanvas.
“Benarkah kau tak ingat apapun?” Tanya Minjae. Lalu duduk dan memasang kanvasnya dan mulai melukis. Soo won yang sudah terlebih dulu melukis menoleh ke Minjae. “Tak ingat apa?” Tanya Soo won dengan kening berkerut.
“Setelah kejadian seminggu yang lalu. Benarkah kau tidak mengingat apapun sebelum kejadian itu?” Tanya Min jae perlahan kemudian menunduk. “Min jae, aku tahu kau sedih karena kau sahabatku. Aku minta maaf aku ga bisa ingat kamu. Itu sangat menyedihkan. Tapi aku minta kita tetap jadi teman ya..” ucap Soo won menatap Minjae dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Soo won sampai kapanpun kau tetap jadi sahabatku,” ucap Minjae tersenyum. “Oh, ya semenjak itu apa aja yang kamu ingat?” lanjut Minjae sambil melanjutkan lukisannya.
Soo won mengangguk. “ah, itu… Aku hanya ingat kalau aku dan orang tuaku kecelakaan. Karena kecelakaan itu orang tuaku meninggal dan aku hilang ingatan. Tapi tenang aja. Aku udah ga apa-apa kok sekarang…” ucap Soo won tersenyum pada Minjae.
“Bukan kecelakaan…” ucap Minjae menggumam. “Apa?” Tanya Soo won. “Ah tidak… hey, lukisanmu sampai mana?” Tanya Minjae melihat lukisan Soo won mengalihkan pembicaraan.
SREEKK!!!
Pintu ruang lukis terbuka. Seorang senior masuk ke ruangan itu. “Seunghyeon onni…” panggil Minjae. “Minjae… lukisan yang mau di pasang pigura dimana ya?” Tanya Seunghyeon.
Minjae menunjuk Soo won, “Soo won yang simpan onni..” katanya.
“iya aku yang simpan…” ucap Soo won lalu mengambil gulungan kertas dari tasnya kemudian menyerahkannya pada Seunghyeon. “ini onni…”
Seunghyeon mengambil gulungan kertas itu. Kemudian mengambil sebuah pigura dan memasang gulungan kertas itu ke pigura.
“Onni, pertunjukan seni besok onni mau main apa?” Tanya Minjae membantu seunghyeon memasang gulungan itu.
“Moonlight Sonata. Lagu itu dipilih oleh ketua klub seni musik kami. Padahal aku belum hapal tapi ketua memaksa kami… hiks…” ucap Seunghyeon menyandarkan kepalanya ke dinding.
“Moonlight sonata? Seunghyeon onni ikut klub musik? Bukannnya onni ikut klub lukis?” Tanya Soo won.
“Aku di kampus ikut klub musik Soo won. Aku biasa main biola. Aku kan lulusan sekolah ini, waktu aku disini aku ikut klub lukis. Jadi untuk sementara aku jadi pembimbing di klub lukis sementara tugasku sebenarnya memainkan melodi yang indah. Senior gitu…” ucap Seunghyeon membanggakan dirinya. “yee Onni…” ejek Minjae menusuk-nusuk Seunghyeon dengan ujung kuas.
Soo won tertawa kecil melihat tingkah senior dan sahabatnya itu. Tiba-tiba saja Soo won membungkuk memegang dadanya. Ia merasa jantungnya berdegup dengan kencang. Sangat kencang sehingga ia merasa jantungnya hampir pecah.
“Soo won kamu kenapa?” Tanya Seunghyeon kaget kemudian mendekati Soo won. Minjae menahan tubuh Soo won kemudian membantunya untuk duduk di kursi.
SREEKK!!!
Pintu ruang lukis terbuka, semua mata tertuju kesana. Seorang pria masuk sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Seunghyeon ini…” ucapnya kemudian menyodorkan kertas pada Seunghyeon namun kemudian ia terpaku menatap Soo Won. Soo won balik menatapnya. Ia merasa sudah lama mengenalnya namun ia tidak ingat.
“Youngsaeng oppa….?” Tanya Seunghyeon membuyarkan pandangan mereka. “Ah, ini partitur baru. Aku pergi…” ucap Youngsaeng kemudian menatap Soo won sesaat kemudian pergi keluar. “Gomawo…” ucap Seunghyeon saat menerima kertas pertitur dari Youngsaeng.
“Onni, dia siapa?” tanya Soo Won. “Dia? Heo Youngsaeng. Mahasiswa tahun kedua, lulusan SMA ini juga, sekarang sebagai pembimbing grup piano sekolah kita tercinta ini,” jelas Min Jae.
“Min Jae benar, dia satu tingkat di atasku, dia pegang klub piano. Minjae kau tahu banyak ya…” ucap Seunhyeon.
“Dia kan idola sekolah ini Onni, masa tidak tahu,” balas Min Jae. “Young… Saeng… Oppa?” tanya Soo Won.
“Seunghyeon Onni, aku selesai nih… Oh ya, Youngsaeng oppa juga sering berdua dengan Gyu Jong Oppa dan Jung Min oppa. Entah sejak kapan dan darimana mereka bisa menjadi akrab.. Nih onni..” ucap Min Jae menyerahkan canvasnya pada Seunghyeon.
“Kalian sudah selesai ya? Kalau begitu kalian pulang duluan saja. Aku masih ada kelas, nih, partitur ini,” ucap Seunghyeon menunjukkan partitur yang diberikan Youngsaeng tadi.
“Betul juga. Onni masih ikut seni music, ya…” ucap Min Jae. “Iya, hati-hati di jalan ya kalian…” ucap Seunhyeon saat Min Jae dan Soo Won keluar dari ruang lukis.
Di koridor sekolah Soo Won berjalan dengan perlahan. Minjae pun mau tak mau mengikuti Soo Won. “Hei Soo Won, sekarang kau tinggal dengan siapa?” tanya Min jae tibtiba. “Aku kan tinggal dengan Jaejoong oppa. Dia kan satu-satunya oppaku,” balas Soo Won.
“Kau benar-benar tidak ingat orang tuamu, ya?” tanya Minjae. “Orang tuaku kan sudah meninggal kecelakaan seminggu yang lalu Minjae, kau bilang kau sahabatku, masa tidak tahu sih… payah.. week!” ejek Soo Won.
“Tidak… Dirimu bukan…”. “Ah! Minjae! Maaf ya! Bukuku tertinggal di kelas. Minjae duluan aja ya! Aku kembali ke kelas dulu, dah!” ucap Soo Won memotong pembicaraan Minjae kemudian kembali kearah kelasnya.
“Soo Won… kau benar-benar terguncang atas pembunuhan yang terjadi pada orang tuamu ya? Padahal itu belum lama terjadi, tapi kenapa kau tak ingat semuanya…,” tnya Minjae pada dirinya sendiri.
“Benarkah?” tanya seseorang. Minjae berbalik, “Jungmin oppa?” tanyanya. “Benarkah temanmu hilang ingatan?” tanya Jung Min. “Benar oppa, Soo Won tidak ingat apapun saat membuka matanya. Padahal sebelumnya terjadi pembunuhan pada kedua orang tuanya. Yang dia ingat hanya beberapa saja,” jelas Minjae menatap arah dimana Soo Won berbalik ke kelasnya. “Oh, ya, Jung Min oppa mencari Youngsaeng oppa ya? Lho?” Minjae terkejut saat ia tak melihat Jung Min disana.
Minjae celingukan, “masa? Tadi kan? Apa Cuma khayalanku ya? Ah, sudahlah…’ ucap Minjae sambil berlalu.

~~~

Soo Won berlari ke kelasnya. Kemudian perlahan karena lelah ia hanya berjalan saja. “Sejak kapan aku jadi pelupa ya? Masa buku saja sampai ketinggalan…” gumamnya kemudian mengambil buku di mejanya dan memasukkannya ke dalam tas.
Tak lama kemudian, saat Soo Won berjalan keluar kelas, ia mendengar suara alunan piano dari ruang music yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.
“Suara ini… melodi….” Ucap Soo Won perlahan mendekati ruang musik. Jantungnya terasa sesak, sama saat ia berada di ruang lukis tadi. Ai memegang dadanya yang terasa sesak itu. Kemudian ia memasuki ruang music.
“Moonlight… Sonata…” ucap Soo Won. Disana ada Youngsaeng yang memainkan lagu itu. Youngsaeng berhenti memainkan piano itu lalu memandang Soo Won.
“Moonlight…” ucap Soo Won terhenti. Mereka saling menatap sekarang. Ada sesuatu di dalam diri Soo Won yang ingin berlari dan mencengkram Youngsaeng.
“ma… maaf…” ucap Soo Won melepaskan kontak matamereka lalu berlari keluar.
“Yang satu ini untukku ya…” ucap Jungmin yang entah muncul darimana berusaha mengejar Soo Won.
“Hentikaan!!!!”
BRAKK!!
Bersamaan dengan ucapan Youngsaeng pintu tertutup dengan keras menghalangi Jung Min untuk mengejar Soo Won. “Dia milikku…” ucap Youngsaeng perlahan. “Hmm… milikmu ya?” ucap Jung Min sambil mendongakkan wajah Youngsaeng dengan tangannya.
“Apa karena kau tidak merasakan kehadirannya maka ia menjadi milikmu?” tanya Jung Min yang sudah berada di punggung Youngsaeng merangkul bahunya. “ Atau karena darahnya sudah bercampur dengan darahmu sehingga kau merasa dia tak akan mengganggumu…?” tanya Jungmin lagi.
Kemudian Jungmin memegang bangku dalam sekejap saja. “Dan haruskah aku bertanya alas an apa yang membiarkannya TETAP HIDUP?” nada bicaranya meninggi di akhir ucapannya.
Bersamaan dengan itu bangku yang dipegang Jung Min terlempar kea rah Youngsaeng. Namun, seolah ada dinding tembus pandang bangku itu hancur sebelum menyentuh Youngsaeng.
Youngsaeng menatap Jung Min. Jung Min pun menatap Youngsaeng sinis.
“Itu bukan urusanmua…” ucap Youngsaeng mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari ruangan itu. “Hei! Mau sampai kapan kau bertingkah layaknya manusia?” ucap Jung Min mengejar Youngsaeng. Namun tiba-tiba seseorang menghadangnya.
“Gyu Jong… Apa yang kau lakukan… Minggir…” ucap Jung Min.
“Hentikan… Kita lihat saja perkembangannya….” Ucap Gyu Jong. “Hmmph… Baiklah…” ucap Jung Min. dan keduanya pun menghilang dari ruang musik itu.


#   She is Mine  #
End

Tidak ada komentar :

Posting Komentar